Archive for February 6th, 2007

Mereka berkata begitu. Aku berkata begini. Aku berkata begitu tapi mereka berkata begini. Aku lelah. Aku kesal. Aku hampa. Pikiranku menggerogoti pandanganku. Kekhawatiranku mengacaukan langkahku. Apakah kau ada di sana?
Pernahkah engkau mau membongkar ketidaknyamananmu? Aku ingat saat kau mendiamkan semuanya. Namun akhirnya engkau pun berteriak dan mereka tetap mengagumimu.

Kini, aku ingin kau berteriak padaku lagi seperti yang pernah kau lakukan. Ketika itu teriakanmu seperti perkalian yang berantakan.
3 x 3 menjadi 8 dan 4 x 4 menjadi 10 namun 5 x 5 tetap 25. Kemudian angka 6 mengembalikan 3 x 3 menjadi 9 tetapi 7 x 7 berubah menjadi 50. Lalu angka 8 dan 9 berunding dengan angka 1 dan 2. Mereka menemui angka 0, yang akhirnya mengutus mereka untuk datang kepada penjumlahan. Ternyata 1 + 1 bukanlah 2. 1 + 1 sedang kebingungan dan diragukan kebenarannya. Tiba-tiba seseorang menegaskan kembali kebenaran itu. Orang itu mengingatkan mereka bahwa 2 - 1 adalah 1. Mereka pun sadar. Dunia perkalian menjadi normal kembali.

Aku jadi ngantuk. Apakah kau mengerti apa yang baru saja kau baca? Sebaiknya tidak, karena jika kau mengerti maka egoku akan semakin besar. Ego ini membuat kepercayaanku terhadap mereka menjadi kabur. Aku menjadi bodoh. Aku jadi marah. Aliran darahku menjadi cepat. Napasku pun kacau. Jantungku berdegup keras dan cepat. Yang kumiliki hanya ego yang membesar.

Perlahan angin mulai berhembus pelan, pelan, lalu kencang, menghempas ku ke bawah langit dan ke atas bumi. Angin masih terus menghempas ku ke sana ke mari namun tetap di bawah langit dan di atas bumi sampai akhirnya kepalaku mendongak ke langit. Perasaanku perlahan terbenam ke langit. Pandanganku ditarik meluas sampai ke tepi langit. Hatiku berkata, betapa kecilnya aku sekaligus betapa luasnya aku. Kucari egoku tapi tidak kutemukan lagi. Yang kutemukan adalah betapa mulianya Tuhan.

YYDW

Comments No Comments »