Aku selalu ingin memandangimu. Engkau dan laut sungguh menakjubkan. Darimu,Tuhan menyatakan kemuliaannya dan juga kemurkaannya. Matahari terbit, terbenam, dan ketika sedang terik, engkau begitu cerah. Bulan dan bintang akan membuatmu indah saat malam tiba. Langit, sudah kutulis apa yang seharusnya kutulis, namun mereka berkata lain. Apa yang kupikir ternyata bukanlah apa yang seharusnya mereke baca.
Langit, apakah teman-temanku juga sering memandangimu? Banyak di antara mereka yang memandangimu dari daratan yang berbeda-beda. Aku juga suatu saat akan berada di daratan yang jauh dari sini. Aku harap engkau tetap menebarkan pesonamu ketika saat itu tiba.
Tahukah kau bahwa aku ingin seseorang di sana juga memandangimu saat ini. Dia adalah sahabat yang di satu waktu pernah mempercayakan hatinya padaku. Sahabat yang berjuang untuk hidup demi sahabatnya. Sahabat yang telah membalut luka, menambalnya dan membuat tempat untuknya di hati ini.
Langit, aku pun ingin agar engkau memandangi dia yang telah mengajariku untuk melihat kecantikan. Lalu susunlah bintang-bintang di langit supaya aku dapat melihat kecantikannya. Tiap perempuan memiliki kecantikannya masing-masing. Keriput seorang nenek menandai banyaknya air mata - tawa - senyum - marah - sakit - sedih yang pernah dia alami. Jerawat seorang wanita menandai ego - cemburu - cinta - gairah yang ia miliki. Lembutnya anak perempuan menggambarkan kasih - takjub - riang yang ia lakukan. Cara perempuan menatap dan berkata akan menyempurnakan kecantikannya.
Langit, engkau adalah tahta sang pencipta dan bumi adalah pijakan kakinya. Banyak makhluk memandangimu, tertuju pada tahta sang pencipta. Mereka berdoa, memuji, menyembah, dan memuliakan sang pencipta. Mereka menantikannya datang. Jika saat itu tiba, seluruh dirimu akan dipenuhi kemuliaannya.
YYDW

Entries (RSS)